Feeds:
Pos
Komentar

oleh: Drs. Suminto

1.    Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib sepenanggungan. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi  pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Siswa saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, dengan kemampan, gender dan karakter siawa heterogen, dan meminta tanggung jawab atas hasil kerja kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran atas koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2.    Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan.

Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
3.    Realistik (RME, Realistic Mathematics Education
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukaninformal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).
4.    Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau Lanjut Baca »

Iklan

Oleh : Suminto, S.Pd.

Mahasiswa Pascasarjana Teknologi Pendidikan Unila

BAB I

PENDAHULUAN

Berlakunya kurikulum 2004 ( Kurikulum Berbasis Kompetensi ), yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan ( KTSP ) menutut perubahan paradikma dalam pendidikan. Perubahan tersebut haruspula diikuti oleh guru  yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Salah satu perubahan paradikma pembelajaran  tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru    ( teacher centered) beralih berpusat pada murid ( student centered ), metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori , dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat  tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksut untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.

Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah urgen bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap model- model pembelajaran modern. Dengn demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inova dan kontruktif dalam merekontruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Satu inovasi yang menarik mengiringi paradikma tersebut adalah ditemukan dan ditrapkanya model model pembelajaran inovatif dan kontruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara kongrit dan mandiri. Inovasi ini bermula dan diadopsi dari metode kerja para ilmuan dalam menemukan suatu pengetahuan baru.

Fullan (1996) menerangkan bahwa tahun 1960-an adalah era dimana banyak inovasi-inovasi pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia dan fisika baru, mesin belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu, pengajaran secara team (team teaching) dan termasuk dalam hal ini adalah sistem belajar mandiri.

Menurut Buchori ( 2001 ) dalam Khabibah ( 2006: 1 ), bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah- masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Dengan demikian    materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal- hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang komplek yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis.

( Sujana, 2005 ) menganggab bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari obyek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subyek yang menangkap setiap objek yang adalah, proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur koknitif siswa berdasarkan pengalaman (Udin Saefudin Sa’ud , 2008: 168 ).

Makalah ini memaparkan model pembelajaran inovasi, sebelum diuraikan lebih jauh serta pemahaman tentang model pembelajaran inovasi tidak bias maka  pembahasan dalam makalah ini  dibatasi pada pembelajaran inovasi yang Lanjut Baca »

Oleh : Suminto, S.Pd.

Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusan keputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Umpama : aplikasi itu mempunyai dampak penting terhadap isi (content) yang akan diajarkan, tingkat standarisasi dan pemilihan isi, jumlah dan kualitas sumber-sumber yang tersedia.

Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka.

Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping cara-cara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Aplikasi Teknologi Pendidikan tidak terlepas dari aplikasi Lanjut Baca »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!